“Simpanlah airmatamu itu, Kawan
Aku tak ingin…
cinta yang telah kauberi menjadi rasa kasihan padaku”
“Simpanlah airmatamu itu, Kawan
Aku tak ingin…
cinta yang telah kauberi menjadi rasa kasihan padaku”
Anjing!
Itulah kata yang mesti masuk ke telinga ketika dengan tidak sengaja kaki seorang cewek terinjak oleh saya pas mau naik angkot kemarin sore. Saya bergegas menuju bangku yang panjang kemudian duduk tepat didepannya yang berada didekat pintu keluar/masuk angkot.
Saya duduk kemudian terdiam sejenak (lebih tepatnya bingung sih), lalu saya minta maaf sama cewek itu.
Timbul pertanyaan di otak saya. Ko malah kata “anjing” yang keluar?
Bukannya kalau merasa kesakitan itu kata yang mesti keluar itu “aduh” atau “ahhhh”?
Bukannya kata “Anjing” lebih tepat sebagai makian atau ungkapan marah?
Ini cewek kesakitan atau lagi marah sih? Ataukah sakit dan marah sudah tidak ada bedanya lagi?
Ah… biarin saja yang penting saya sudah minta maaf toh itu gara-gara saya juga yang tidak bisa ngontrol kaki. Ya gimana lagi, toh kaki saya tidak ada matanya, kalaupun ada mata kaki itu kan ke arah pinggir tidak ke arah depan. Lain kali, kalau kejadian seperti itu lagi kayanya saya langsung gigit badannya sekalian sambil menggonggong … Goooog … Goooggg
Padahal cewek itu cantik banget …
“Gus, Sing Salamet dugi ka tujuan” (Gus, semoga selamat sampai ke tujuan)
Sebuah ungkapan do’a dari orang yang tidak kukenal sama sekali dan namanya pun aku tidak tahu. Bahkan untuk ngobrol pun belum pernah. Aku hanya tahu bahwa engkau adalah salah satu sahabat Kakakku. Mungkin terlalu banyak orang berkunjung ke rumahku. Aku hafal wajah-wajahnya tapi tidak tahu persis nama-namanya.
Do’a yang sungguh terasa istimewa bagiku. Sebuah jawaban atas do’a yang pernah kupanjatkan di malam-malam lalu. Keinginan untuk dido’akan orang lain, tanpa perlu memintanya kepada orang tersebut. Tanpa perlu dia tahu mimpi apa yang sedang aku kejar, harapan apa yang ingin kucapai. Hari ini mengingatkanku pada sebuah do’a yang pernah aku janjikan untuk sahabatku.
“Semoga Allah menganugerahkan keselamatan bagimu hingga sampai di tujuan”
It’s So Beautiful Day.
Kemarin malam pada saat membeli basotahu yang mangkal di depan mesjid dekat rumah saya (jaraknya sekitar 20 m dari pagar rumah). Kebetulan saat itu ada salah satu pengajar mengaji yang sedang duduk dipelataran mesjid melihat anak-anaknya bermain di depan mesjid. Sapaan yang keluar dari mulut saya adalah tawaran untuk menikmati basotahu yang sedang saya beli. Tentu saja dia menolak tawaran baso tahu dari saya. Seperti biasanya kalau orang baik selalu menolak tawaran, atau mungkin dia sadar kalau saya itu cuma basa basi doang menawarkan baso tahu itu? he he he.
Sambil menunggu pesanan basotahu selesai, obrolan dengan pengajar itu berlanjut ke kondisi mesjid dan kondisi anak-anak yang sedang belajar dimesjid itu. Tak lama kemudian dia meminta lebih tepatnya mengajak belajar bareng menjadi penceramah. Sambil nyengir saya keluarkan saja jurus mengalihkan pembicaraan sebagai pengganti jawaban tidak untuk ajakannya itu, he he he. Ya gimana lagi, wong awak kagak mau dan kagak ngarti pula?. Kebetulan pesanan dah beres, jadi obrolannya disudahi saja dulu, padahal saya belum jawab alasannya
Emang sih, keliatannya asyik bicara ini itu, ngeluarin surat sekian ayat sekian, tetapi kenapa dari sebanyak da’i yang banyak ini kondisi masyarakat tidak membaik. Apa yang salah? Apakah hal yang disampaikan oleh penceramah salah? Ah… saya rasa tidak mungkin. Soalnya kalau materinya tidak baik dan benar pasti dianggap aliran sesat? hehehe.
Atau pendengarnya saja yang bebal, berhati dan berkepala batu? Atau terlalu bodoh dan tidak mau mengakui kebodohannya?. Teringat sebuah percakapan dalam film Seven yang dibintangi Brad Pitt. Jika memakai bahasa saya, bahwa zaman sekarang ini dalam memberi tahu orang lain tidak cukup hanya dengan menepuk pundaknya kemudian diajak bicara dengan bahasa yang halus dan dengan cara baik-baik, tetapi harus menodongkan senjata api pada kepalanya baru orang itu mau mendengar. Gelo, sadis pisan!
Kembali ke cerita tentang ajakan tadi, da sayah mah jalmi bodo. Takut nanti ajaran yang keluar adalah ilmu lilin, memberi cahaya pada orang lain tapi dirinya sendiri ikut habis meleleh. Berusaha menjadi penonton dan pendengar yang baik saja dulu. Kalau setiap orang berbicara siapa yang jadi pendengarnya?. Wah mental yang payah!. Beruntung disekeliling saya masih banyak orang berilmu yang beramal soleh.
Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi sebuah tempat makan di jalan Gelap Nyawang yang sering disinggahi semenjak kuliah dulu sambil menunggu selesainya kacamata yang dipesan di sebuah optik di komplek salman ITB. Ada satu kios yang dulu seringkali dijadikan tempat ngobrol, rapat BP himpunan, hingga jadi tempat membaca dan memahami materi kuliah dan TA.
Ada satu hal yang tidak berubah yaitu discount khusus untuk makanan yang saya pesan (lumayan dapat potongan Rp 1000, - he he he). Sebenarnya tidak enak juga sih, mungkin karena saya sering makan disana jadi saya dapat harga khusus (saya tidak pernah minta diberi discount dan saya bukan PREMAN). Tapi kenapa hanya saya saja, kok teman2 saya yang lain tidak padahal sering bareng makan sama saya?. Hal Ini sudah berlangsung sejak tahun 2004 (wah kalau dihitung-hitung jumlah discount-nya gede juga).
Sudah sering saya minta agar harga makanannya disamakan dengan yang lain karena duit saya cukup banyak kok. Tapi si Bapak kios itu tetap saja pada pendiriannya. Saya hanya bisa mengucapkan “Hatur Nuhun” saja sama si Bapak. Untuk melawan perasaan “tidak enak” ini, strategi yang saya gunakan adalah meminta kawan saja yang membayar, dan ternyata kalau bukan saya yang membayar harganya sama dengan yang lain… he he he.
Mungkin ini pelajaran bagi saya bahwa dalam memberikan sesuatu itu harus ikhlas dan bagi yang menerima pun harus ikhlas juga. Karena kalau terlalu banyak mempertanyakan niat seseorang yang memberi kepada kita hal itu bisa membelokkan niat si pemberi, niat yang tadinya ikhlas malah menjadi jual-beli gara-gara kita terlalu banyak perhitungan. Mungkin ini pula hikmah yang dikandung dari kata hatur nuhun, terima kasih, jazakumullohu khairan, dan ungkapan-ungkapan sejenis lainnya.Wallahu ‘Alam
Gimana ya kalau ada yang memberi uang 1 Milyar sama kita? ![]()
Terinspirasi dari buku Angel and Demon karya Dan Brown yang saya baca beberapa bulan yang lalu. Saya tertarik dengan gambar-gambar atau tulisan berupa ambigram yang banyak terdapat dalam buku itu. Beruntung ada tarjho, teman yang bisa ditanya tentang masalah seni, padahal teman saya ini jurusan Fisika tapi bakat seninya hebat juga (maklum dia gagal masuk FSRD…he he he). Kebetulan saya tidak bisa ikut main futsal selama beberapa minggu ini, akhirnya ada kesempatan untuk mencoba buat gambar ambigram dengan menggunakan nama saya. Dengan segala keterbatasan skill dan imaginasi ini dia hasilnya:

Untuk gambar yang kedua dibawah ini, hanya dengan memanfaatkan font vivaldi sebanyak 3 huruf yaitu “u“, “e“, dan “i“. hasilnya seperti ini:

Ada juga tutorialnya kalau mau serius buat ambigram. Ini Linknya.
Apa sih enaknya pacaran jarak jauh?
Pertanyaan sederhana yang cukup sering mampir ke telinga saya akhir-akhir ini. Sebenarnya malas untuk bahas masalah ini secara langsung, soalnya jawabannya bisa menghabiskan waktu berjam-jam, beberapa gelas kopi dan beberapa bungkus rokok. he he he. Satu lagi, karena saya ga terlalu suka dengan istilah pacaran, tidak sregg aja. (saya tidak punya alternatif kata lain). Jawaban yang paling singkat untuk pertanyaan tersebut adalah TIDAK TAHU atau menjawab pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lagi.
Kalau yang bertanya orang yang lagi jomblo dan belum pernah long distance relationship biasanya dijawab dengan “Coba saja rasakan sendiri”.
Kalau yang sedang tidak jomblo jawaban yang paling pas adalah “Memang apa enaknya pacaran jarak dekat?“.
Kalau yang bertanya teman tetapi sudah menikah pertanyaannya menjadi: “Memang ada hubungannya antara jarak / lamanya berpacaran dengan kepastian terjadinya pernikahan?”
Kadang-kadang sering bingung sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Bagi saya pribadi, pertanyaan yang salah akan mengundang jawaban yang salah.
Kenapa pertanyaanya bisa salah?
Karena masalah hati itu susah untuk dimengerti, memerlukan banyak waktu dan kata untuk menjelaskannya.
ha ha ha… akhir-akhir ini sedang jadi konsultan cinta bagi beberapa klien yang sedang on fire dan off fire dengan pasangannya. Kamana atuh Cintah?
Beberapa bulan yang lalu (tepatnya seminggu setelah lebaran), ada sebuah wacana menarik yang dihasilkan dari obrolan dengan pemilik rumah yang saya singgahi di Surabaya. Wacana tersebut adalah mengenai adanya peraturan daerah yang mengharuskan setiap keluarga yang baru melahirkan seorang bayi untuk menanam satu pohon terserah apapun jenis pohonnya. Jika keluarga tersebut tidak mempunyai lahan untuk menanam pohon, maka keluarga tersebut cukup memberikan bibit pohon yang akan ditanam pada kepala desa (atau lurah) manapun yang dikehendaki. Tentu saja penyerahan bibit tananam dilengkapi dengan berita acara sebagai bukti administratif bahwa keluarga tersebut telah melaksanakan perda tersebut.
Nah, bagaimanakan dengan Bandung? Apakah cocok jika diberlakukan perda serupa?
Melihat kondisi Bandung yang sudah heurin ku tangtung dan lingkup oleh mall dan FO, saya sedikit pesimis tapi bukan berarti tidak mungkin kalau Kota Bandung berniat mengurangi polusi dan suhu kota yang semakin panas. Hanya saja mungkin yang menjadi masalah adalah lahan untuk menanamnya yang perlu dipikirkan.
Bagaimana Bapak2 di Pemkot nih???
“Bandung di lingkung gunung… Bandung heurin ku tangtung“
Sudah kebiasaan saya kalau bepergian keluar rumah baik menuju ke kantor atau hanya sekedar jalan-jalan pasti sarana transportasi yang saya gunakan adalah Angkot (Angkutan Kota). Maklum, saya tidak punya sepeda motor dan belum punya keinginan untuk memakai sepeda motor (pengennya beli sepeda gunung… :-)).
Kali ini pengen cerita pengalaman naik angkot jurusan Kalapa-Cicaheum (via Aceh) beberapa hari yang lalu. Sudah menjadi ciri khas kalau jalanan di Bandung selalu macet dan penuh dengan kendaraan bermotor mulai dari sepeda motor, angkot (banyak banget nihhh…) sampai kendaraan pribadi. Ada satu masalah kecil (bagi sebagian besar orang) yaitu apakah ada undang-undang yang mengatur masalah klakson pada kendaraan bermotor? Kapan klakson boleh dibunyikan?
Saya sering bingung, sudah jelas-jelas jalanan macet, kenapa masih kepikiran untuk membunyikan klakson. Apakah dengan membunyikan klakson (apalagi berulang-ulang) itu akan memperlancar jalur lalu lintas? Satu kali mencet klakson saja sudah bising, apalagi diulang-ulang. dan yang parahnya lagi sebagian besar pengendara malah sering “berbalas klakson” (mending kalo berbalas pantun enak untuk didengar, ieu mah klakson kan gandeng).
Satu-satunya angkot yang saya suka (itupun supir yang saya kenal) adalah Cisitu-Tegalega. Pernah satu kali ketika pulang dari kampus menuju Tegallega terjebak macet di daerah cihampelas. Kondisinya seperti yang saya ceritakan diatas tadi, setiap orang bernafsu untuk membunyikan klakson. Si Supir malah curhat dan berkata pada saya: “Tuh Jang, tinggal jalmi ayena mah sakola weh laluhur, mobil aralus, tapi kalakuan teu nyakola. Geus nyaho macet di dieu teh, haben weh ngahurungkeun klakson”.
Muhun Pak, Lieur kanu hulu hayamna ge …. hehehe.
Hahahaha…
Coba lihat situs-situs ini, apakah ada kesamaan di antaranya:
Teringat penggalan lirik lagu dari Dream Theater - Answer Lies Within:
…
Look around
Where do you belong
Don’t be afraid
You’re not the only one
…
Jadi pengen kenalan sama mereka. ![]()