Sudah kebiasaan saya kalau bepergian keluar rumah baik menuju ke kantor atau hanya sekedar jalan-jalan pasti sarana transportasi yang saya gunakan adalah Angkot (Angkutan Kota). Maklum, saya tidak punya sepeda motor dan belum punya keinginan untuk memakai sepeda motor (pengennya beli sepeda gunung…
).
Kali ini pengen cerita pengalaman naik angkot jurusan Kalapa-Cicaheum (via Aceh) beberapa hari yang lalu. Sudah menjadi ciri khas kalau jalanan di Bandung selalu macet dan penuh dengan kendaraan bermotor mulai dari sepeda motor, angkot (banyak banget nihhh…) sampai kendaraan pribadi. Ada satu masalah kecil (bagi sebagian besar orang) yaitu apakah ada undang-undang yang mengatur masalah klakson pada kendaraan bermotor? Kapan klakson boleh dibunyikan?
Saya sering bingung, sudah jelas-jelas jalanan macet, kenapa masih kepikiran untuk membunyikan klakson. Apakah dengan membunyikan klakson (apalagi berulang-ulang) itu akan memperlancar jalur lalu lintas? Satu kali mencet klakson saja sudah bising, apalagi diulang-ulang. dan yang parahnya lagi sebagian besar pengendara malah sering “berbalas klakson” (mending kalo berbalas pantun enak untuk didengar, ieu mah klakson kan gandeng).
Satu-satunya angkot yang saya suka (itupun supir yang saya kenal) adalah Cisitu-Tegalega. Pernah satu kali ketika pulang dari kampus menuju Tegallega terjebak macet di daerah cihampelas. Kondisinya seperti yang saya ceritakan diatas tadi, setiap orang bernafsu untuk membunyikan klakson. Si Supir malah curhat dan berkata pada saya: “Tuh Jang, tinggal jalmi ayena mah sakola weh laluhur, mobil aralus, tapi kalakuan teu nyakola. Geus nyaho macet di dieu teh, haben weh ngahurungkeun klakson”.
Muhun Pak, Lieur kanu hulu hayamna ge …. hehehe.
Posted by udiens