Hanya Hatur Nuhun

December 18, 2007

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi sebuah tempat makan di jalan Gelap Nyawang yang sering disinggahi semenjak kuliah dulu sambil menunggu selesainya kacamata yang dipesan di sebuah optik di komplek salman ITB. Ada satu kios yang dulu seringkali dijadikan tempat ngobrol, rapat BP himpunan, hingga jadi tempat membaca dan memahami materi kuliah dan TA.

Ada satu hal yang tidak berubah yaitu discount khusus untuk makanan yang saya pesan (lumayan dapat potongan Rp 1000, – he he he). Sebenarnya tidak enak juga sih, mungkin karena saya sering makan disana jadi saya dapat harga khusus (saya tidak pernah minta diberi discount dan saya bukan PREMAN). Tapi kenapa hanya saya saja, kok teman2 saya yang lain tidak padahal sering bareng makan sama saya?. Hal Ini sudah berlangsung sejak tahun 2004 (wah kalau dihitung-hitung jumlah discount-nya gede juga).

Sudah sering saya minta agar harga makanannya disamakan dengan yang lain karena duit saya cukup banyak kok. Tapi si Bapak kios itu tetap saja pada pendiriannya. Saya hanya bisa mengucapkan “Hatur Nuhun” saja sama si Bapak. Untuk melawan perasaan “tidak enak” ini, strategi yang saya gunakan adalah meminta kawan saja yang membayar, dan ternyata kalau bukan saya yang membayar harganya sama dengan yang lain… he he he.

Mungkin ini pelajaran bagi saya bahwa dalam memberikan sesuatu itu harus ikhlas dan bagi yang menerima pun harus ikhlas juga. Karena kalau terlalu banyak mempertanyakan niat seseorang yang memberi kepada kita hal itu bisa membelokkan niat si pemberi, niat yang tadinya ikhlas malah menjadi jual-beli gara-gara kita terlalu banyak perhitungan. Mungkin ini pula hikmah yang dikandung dari kata hatur nuhun, terima kasih, jazakumullohu khairan, dan ungkapan-ungkapan sejenis lainnya.Wallahu ‘Alam

Gimana ya kalau ada yang memberi uang 1 Milyar sama kita? :-)


Ambigram

December 13, 2007

Terinspirasi dari buku Angel and Demon karya Dan Brown yang saya baca beberapa bulan yang lalu. Saya tertarik dengan gambar-gambar atau tulisan berupa ambigram yang banyak terdapat dalam buku itu. Beruntung ada tarjho, teman yang bisa ditanya tentang masalah seni, padahal teman saya ini jurusan Fisika tapi bakat seninya hebat juga (maklum dia gagal masuk FSRD…he he he). Kebetulan saya tidak bisa ikut main futsal selama beberapa minggu ini, akhirnya ada kesempatan untuk mencoba buat gambar ambigram dengan menggunakan nama saya. Dengan segala keterbatasan skill dan imaginasi ini dia hasilnya:

Udien&Ambigram

Untuk gambar yang kedua dibawah ini, hanya dengan memanfaatkan font vivaldi sebanyak 3 huruf yaitu “u“, “e“, dan “i“. hasilnya seperti ini:

Udien&Ambigram2

Ada juga tutorialnya kalau mau serius buat ambigram. Ini Linknya.


Long Distance Tea Mah

December 11, 2007

Apa sih enaknya pacaran jarak jauh?

Pertanyaan sederhana yang cukup sering mampir ke telinga saya akhir-akhir ini. Sebenarnya malas untuk bahas masalah ini secara langsung, soalnya jawabannya bisa menghabiskan waktu berjam-jam, beberapa gelas kopi dan beberapa bungkus rokok. he he he. Satu lagi, karena saya ga terlalu suka dengan istilah pacaran, tidak sregg aja. (saya tidak punya alternatif kata lain). Jawaban yang paling singkat untuk pertanyaan tersebut adalah TIDAK TAHU atau menjawab pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lagi. :-)

Kalau yang bertanya orang yang lagi jomblo dan belum pernah long distance relationship biasanya dijawab dengan “Coba saja rasakan sendiri”.

Kalau yang sedang tidak jomblo jawaban yang paling pas adalah “Memang apa enaknya pacaran jarak dekat?“.

Kalau yang bertanya teman tetapi sudah menikah pertanyaannya menjadi: “Memang ada hubungannya antara jarak / lamanya berpacaran dengan kepastian terjadinya pernikahan?”

Kadang-kadang sering bingung sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Bagi saya pribadi, pertanyaan yang salah akan mengundang jawaban yang salah.

Kenapa pertanyaanya bisa salah?

Karena masalah hati itu susah untuk dimengerti, memerlukan banyak waktu dan kata untuk menjelaskannya.

ha ha ha… akhir-akhir ini sedang jadi konsultan cinta bagi beberapa klien yang sedang on fire dan off fire dengan pasangannya. Kamana atuh Cintah?


Satu Pohon Satu Kehidupan

December 7, 2007

Beberapa bulan yang lalu (tepatnya seminggu setelah lebaran), ada sebuah wacana menarik yang dihasilkan dari obrolan dengan pemilik rumah yang saya singgahi di Surabaya. Wacana tersebut adalah mengenai adanya peraturan daerah yang mengharuskan setiap keluarga yang baru melahirkan seorang bayi untuk menanam satu pohon terserah apapun jenis pohonnya. Jika keluarga tersebut tidak mempunyai lahan untuk menanam pohon, maka keluarga tersebut cukup memberikan bibit pohon yang akan ditanam pada kepala desa (atau lurah) manapun yang dikehendaki. Tentu saja penyerahan bibit tananam dilengkapi dengan berita acara sebagai bukti administratif bahwa keluarga tersebut telah melaksanakan perda tersebut.

Nah, bagaimanakan dengan Bandung? Apakah cocok jika diberlakukan perda serupa?

Melihat kondisi Bandung yang sudah heurin ku tangtung dan lingkup oleh mall dan FO, saya sedikit pesimis tapi bukan berarti tidak mungkin kalau Kota Bandung berniat mengurangi polusi dan suhu kota yang semakin panas. Hanya saja mungkin yang menjadi masalah adalah lahan untuk menanamnya yang perlu dipikirkan.

Bagaimana Bapak2 di Pemkot nih???

Bandung di lingkung gunung… Bandung heurin ku tangtung