Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi sebuah tempat makan di jalan Gelap Nyawang yang sering disinggahi semenjak kuliah dulu sambil menunggu selesainya kacamata yang dipesan di sebuah optik di komplek salman ITB. Ada satu kios yang dulu seringkali dijadikan tempat ngobrol, rapat BP himpunan, hingga jadi tempat membaca dan memahami materi kuliah dan TA.
Ada satu hal yang tidak berubah yaitu discount khusus untuk makanan yang saya pesan (lumayan dapat potongan Rp 1000, – he he he). Sebenarnya tidak enak juga sih, mungkin karena saya sering makan disana jadi saya dapat harga khusus (saya tidak pernah minta diberi discount dan saya bukan PREMAN). Tapi kenapa hanya saya saja, kok teman2 saya yang lain tidak padahal sering bareng makan sama saya?. Hal Ini sudah berlangsung sejak tahun 2004 (wah kalau dihitung-hitung jumlah discount-nya gede juga).
Sudah sering saya minta agar harga makanannya disamakan dengan yang lain karena duit saya cukup banyak kok. Tapi si Bapak kios itu tetap saja pada pendiriannya. Saya hanya bisa mengucapkan “Hatur Nuhun” saja sama si Bapak. Untuk melawan perasaan “tidak enak” ini, strategi yang saya gunakan adalah meminta kawan saja yang membayar, dan ternyata kalau bukan saya yang membayar harganya sama dengan yang lain… he he he.
Mungkin ini pelajaran bagi saya bahwa dalam memberikan sesuatu itu harus ikhlas dan bagi yang menerima pun harus ikhlas juga. Karena kalau terlalu banyak mempertanyakan niat seseorang yang memberi kepada kita hal itu bisa membelokkan niat si pemberi, niat yang tadinya ikhlas malah menjadi jual-beli gara-gara kita terlalu banyak perhitungan. Mungkin ini pula hikmah yang dikandung dari kata hatur nuhun, terima kasih, jazakumullohu khairan, dan ungkapan-ungkapan sejenis lainnya.Wallahu ‘Alam
Gimana ya kalau ada yang memberi uang 1 Milyar sama kita?
December 18, 2007 at 3:55 am |
hatur nuhun,..
December 18, 2007 at 6:26 am |
thanks bangget loh din
December 18, 2007 at 12:49 pm |
Apa tampang kamu jangan-jangan kayak preman Persib, Din? Hohoho….Kapan ngajak aku makan disana?
Ucapan terimakasih itu terlihat sederhana, tapi kadang maknanya bisa besar lho Din.
January 6, 2008 at 8:33 pm |
wah mau ngasih saya 1 miliar ya diens?
hatur nuhun… saya buat bangunin usaha warung buat warga aja dengan dikelola oleh warga. keuntungannya buat bikin pengobatan gratis buat warga… sekolahan gratis? ya nanti saya minta tolong udiens dan temen-temen aja ikut ngajar ya
January 7, 2008 at 3:40 am |
@ Aa Nata
Nepangkeun Aa Nata.
. kayanya ga jadi saya kasih sama Aa Nata. Biar nanti saya bangunin usaha buat warga + sekolah gratis, soalnya saya males kalo diminta untuk ngajar… he he he. (mimpi kali ye?).
Ide yang bagus
January 9, 2008 at 3:18 pm |
Ini salah satu bentuk Customer Retention yang ikhlas Mas
Mas jadi inget terus sama warung ini. Oh iya kalau mas dapat 1 Milyar, jangan lupa sama yang lain
BTW, kapan merumput lagi …
January 10, 2008 at 8:52 am |
@Rayyan
Ga jadi deh bagi2 Rp.1M nya, banyak yang request sampai saya “terbangun” dari mimpi. he he he
Iya nih, sudah dua bulan tidak “melantai”. Cedera kakinya belum sembuh total nih
January 11, 2008 at 3:45 am |
Maksudku jangan lupa sama yang lain, “jangan lupa sebagian di infaqkan kepada saya eh salah, kepada fakir miskin dan yang berhak lainnya
Tetap main aja mas, ntar juga sembuh sendiri he he