Harapku

May 19, 2009

Harapku… Judul sebuah lagu lama. Lagu yang pernah diciptakan beberapa kawan saya (sebuah band) untuk saya semasa kuliah dulu. Sempat diputarkan di salah satu radio swasta di bandung secara live. Live terakhir saya nikmati lagu ini adalah pada saat pernikahan saya di Cafe Resep Dapurku, 12 Juli tahun 2008 lalu. Satu-satunya kado yang saya minta sebagai hadiah. Lagu ini diciptakan malam hari juga tahun 2003, di Gedung bengkok ITB (sekarang gedungnya sudah tinggal kenangan). Ternyata musik itu memang bisa menenangkan, tetapi menyaksikan bagaimana sebuah musik/lagu tercipta sungguh menakjubkan. Terima kasih untuk kesempatannya. Malam ini, sambil meninabobokan anak saya, coba putar lagu ini kembali di winamp.

Tataplah mataku… Adakah dirimu?

Wahai ksatriaku

kaulah yang ku tunggu

hampalah hidupku bila ku tanpamu

larutlah dalamku

biarlah menyatu dalam lamunanku

hanyalah dirimu… dirimu… dirimu

Genggamlah tanganku, bawalah diriku

Jangan kau biarkan diriku tenggelam dalam ketiadaan

kau lah kenyataan

Tiada berubah rasa ini hanya milikmu… kasihku

Didedikasikan untuk anak saya Syifa Adya Salsabila dan semua yang menyimpan harapannya pada orang yang dicintainya.

Ah terlelap juga akhirnya. Do’a ayah ibumu akan selalu menyertaimu Nak.  I don’t know how to be a good father, but I know that I have to try.


(Untaian kata) Bermain dan Permainan

May 18, 2009

Sebuah renungan di pagi hari, sambil bermain-main dengan anak yang masih bayi. :-)

Pagi ini sangat tertarik dengan yang namanya bermain. Dulu pernah membuat tulisan tentang permainan,  The Similarity of Playing. Mencoba mengumpulkan kembali untaian-untaian kata yang berhubungan dengan permainan (dan juga bermain). (Apakah mesti dibuat dengan judul the diffrence of playing? Mengapa segala sesuatu mesti di-sama-samakan atau dibeda-bedakan?)

back to the games….  (mulai darimana ya?)

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau semata … ” (Q.S Muhammad 47:36)

Masih belum menemukan tafsiran tentang ayat di atas. Coba-coba membuka buku Asbabun Nuzul, kepunyaan saudara.  Belum nemu. setahu saya ada ayat-ayat lain dengan “bunyi” yang senada. tapi saya ga hafal. Mungkin di ayat yang lain, ada tafsirannya pada buku Asbabun-nuzul tadi (ada yang tahu?).

Ada buku lainnya tentang Homo Ludens, karangan Johan Huizinga, yang membahas tentang fungsi dan hakikat permainan dalam Budaya.  Ada satu untaian kata yang sedikit mengelitik saya, pada bagian pengantarnya:

” … agar bacaan buku Homo Ludens ini semoga jangan dilakukan dengan suatu mental rasionalitas instrumen belaka, namun dengan budi serta hati yang merenung yang menghayati yang penuh dengan kepedulian, keprihatinan dan bela rasa. dan semoga dapat kembali mengingatkan kita pada sabda Nabi Isa yang penuh hikmah: “Bila orang tidak mau kembali seperti anak-anak, (spontan, merdeka, tanpa pamrih, tanpa muslihat politik alias berman dalam arti sangat luas), dia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga

Memerlukan waktu untuk membacanya lagi…. :(

Kalau dari bukunya Jalaluddin Rumi, tentang kearifan cinta. Tentang ayat (QS  47:36) di atas: ketika manusia telah dewasa sehingga nalar menjadi sempurna, dia tidak akan bermain-main lagi. Apabila dia melakukannya, tentu secara rahasia dan malu-malu agar tidak seorang pun melihatnya.

terdapat juga pada tulisan tembang  kuno Sunda, pada tembang pupuh Asmarandana :

Darma wawayangan bae
Raga taya pangawasa
….

Kayaknya masih banyak buku lain yang membahas tentang permainan ini.  Nanti searching lagi. Masih banyak peran yang harus dimainkan. Sambil mencari tahu, jenis-jenis permainan buat anak saya kelak.